Pemanasan Global : Menilik dari Segi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Pemanasan
global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial dan ekonomi, bukan hanya sebatas
menjadi isu lingkungan. Pemanasan global seharusnya bukan hanya ditinjau dari
sebatas hasil emisi gas buangan, tetapi juga dilihat dari perspektif
perbenturan antar kepentingan. Mengapa demikian?
Menurut
Natural Resources Council, pemanasan
global didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya suhu rata-rata di bumi
akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih di atmosfer bumi. Beberapa
contoh gas rumah kaca diantaranya karbon dioksida (CO2), nitrogen
dioksida (NO2), metana (CH4), dan freon (SF6,
HFC, CFC, dan PFC). Gas rumah kaca ini bersifat memerangkap panas sehingga bisa
kita dibayangkan ketika gas rumah kaca menumpuk di atmosfer bumi, maka suhu
rata-rata bumi akan meningkat. Hal inilah yang menjadikan terjadinya pemanasan
global.
Namun,
mengapa pemanasan global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial, politik,
dan lingkungan? Bukankah ini hanya semata akibat dari gas buangan? Pemanasan
global adalah masalah yang sangat kompleks. Berbagai macam bentrok kepentingan,
mulai dari alasan sosial, ekonomi, sampai lingkungan, menyebabkan terjadinya adu
gagasan. Perlawanan untuk “menolak pemanasan global” muncul dengan berbagai
gagasan sebagai bentuk manifestasi dari upaya pengurangan dan pencegahan.
Menamakan diri sebagai kelompok konservatif lingkungan yang mengkritisi
kebijakan dengan fakta ilmiah dan dukungan bahwa keberadaan pemanasan global
merupakan peristiwa yang merugikan.
Namun,
perlu dipikirkan bagaimana nasib para pegawai dan buruh yang bekerja di
perusahaan yang sebagian pendapatannya dari bahan bakar fosil? Sebut saja PT
Pertamina yang pendapatannya sebesar 77,23 persen berasal dari penjualan minyak
mentah, gas bumi, dan bbm atau PT Adaro Indonesia sebagai perusahaan batubara
terbesar di Indonesia dengan pendapatan mencapai US$ 3,45 miliar pada tahun
2019. Selain itu, perlu dipikirkan juga bagaimana menanggulangi semakin
masifnya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil khususnya di Indonesia,
padahal Indonesia merupakan pasar yang cukup potensial bagi perusahaan
kendaraan berbahan bakar fosil ini. Astra Honda Motor misalnya, perusahaan
pabrikan otomotif ini berhasil menguasai 74,6 persen pangsa pasar pada tahun
2018 sebagaimana yang dikutip dari tempo.co dengan jumlah karyawan mencapai
25.817 orang (Maret 2020). Melihat masalah yang timbul dari segi sosial dan
ekonomi, tentu pemanasan global bukan masalah yang sederhana.
Penyebab
dari pemanasan global salah satunya berasal dari emisi karbon dioksida. Salah
satu profesor Ilmu Bumi dari Universitas Stanford sekaligus Ketua Global Carbon
Project, Rob Jackson mengeluarkan laporan terbaru soal emisi karbon dioksida
yang mencapai jumlah tertingginya pada tahun 2019 yang mencapai 37 miliar ton
sebagaimana yang dikutip dari CNN Indonesia. Tentu saja ini bukan angka yang
kecil. Dengan penambahan emisi gas karbon dioksida yang semakin meningkat,
tentu sebanding dengan kenaikan suhu rata-rata bumi. Perubahan iklim,
kekeringan, masalah kesehatan, dan kepunahan makhluk hidup yang tidak mampu
beradaptasi hanya beberapa contoh konsekuensi yang akan terjadi dan harus
diwaspadai. Pemanasan global yang terjadi bukanlah sekedar dongeng belaka dari
orang tua, tetapi inilah sekarang faktanya.
Akan
tetapi, pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa hutan yang seharusnya sebagai
kontrol dalam mengurangi gas efek rumah kaca beralih fungsi menjadi pemukiman,
jalan, daerah industri, dan fasilitas lainnya? Bayangkan saja 1,47 juta hektare
hutan hilang setiap tahunnya. Jawabnnya karena dunia semakin berkembang dengan
berbagai macam tuntutan. Kebutuhan akan pembangunan menjadi tolak ukur
berkembangnya suatu wilayah bahkan dalam lingkup negara. Pertumbuhan jumlah
penduduk yang terjadi sebanding dengan kebutuhan tempat atau lahan yang diperlukan
sebagai tempat tinggal, tetapi dibarengi dengan keterbatasan lahan pemukiman. Pembukaan
hutan untuk perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku industri, membuka
peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi masyarakat sekitar sehingga berdampak
pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Kita tidak memungkiri bahwa
kebutuhan akan barang produksi, seperti kendaraan, tekstil, semen, dan lain-lain,
dapat terpenuhi dengan dilakukannya pembangunan kawasan industri. Padahal di
Indonesia, sektor industri menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 3,12 persen
dari proses produksi dan 9,63 persen dari penggunaan energi.
Pemanasan
global merupakan permasalahan yang sangat kompleks. Bukan sekedar hanya
permasalahan lingkungan, tetapi juga mencakup masalah sosial, ekonomi, bahkan kepentingan.
Dalam hal ini sangat diperlukan peran dan komitmen dari semua pihak, baik dari
pemerintah maupun warganya dalam menanggulangi pemanasan global. Pemerintah
sebagai pemangku kekuasaan harus bisa mengambil kebijakan yang paling
menguntungkan, baik dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penggunaan dan
pemberdayaan Energi Baru Terbarukan yang berwawasan lingkungan dengan emisi
karbon yang tidak berlebihan dianggap menjadi solusi paling rasional yang dapat
dilakukan. Perusahaan-perusahaan harus punya komitmen untuk mulai bergerak ke
arah renewable energy. Kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan juga harus semakin
dibangkitkan. Bersama kita pasti bisa!!
#TantanganMasaDepan
#DuniaVUCA #OSKMITB2020 #TerangKembali
Sumber
:
https://news.detik.com/berita/d-4718212/tentang-pemanasan-global-dan-fakta-fakta-menariknya
https://lingkunganhidup.co/pengertian-pemanasan-global-penyebab-dampak/
https://bisnis.tempo.co/read/478703/ini-dia-delapan-industri-penyumbang-emisi-terbesar
https://otomotif.tempo.co/read/1166134/honda-kuasai-746-persen-pasar-motor-2018-yamaha-turun-tipis
https://investor.id/market-and-corporate/pendapatan-adaro-capai-us-345-miliar
Ditulis oleh : 202_Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho
Komentar
Posting Komentar